Review Film Longlegs: Nicolas Cage Horor Psikopat. Longlegs karya Osgood Perkins yang tayang sejak pertengahan 2024 masih menjadi salah satu film horor paling intens dan dibicarakan hingga awal 2026. Thriller psikopat ini dibintangi Maika Monroe sebagai agen FBI Lee Harker yang menyelidiki serangkaian pembunuhan ritualistik, dan Nicolas Cage sebagai Longlegs—pembunuh berantai misterius yang sangat mengganggu. Dengan durasi 101 menit dan rating R, film ini berhasil meraup lebih dari US$110 juta secara global dari budget sekitar US$10 juta—angka yang sangat mengesankan untuk horor original non-franchise. Rating Rotten Tomatoes mencapai 86% dari kritikus dan 79% dari penonton. Longlegs dikenal karena atmosfer mencekam, performa Nicolas Cage yang sangat aneh, dan pendekatan horor yang lebih mengandalkan rasa takut psikologis daripada jumpscare murahan. Apakah film ini benar-benar horor psikopat terbaik tahun ini, atau malah terlalu lambat dan pretensius? BERITA TERKINI
Atmosfer Dingin dan Ketegangan yang Menyesakkan di Film Longlegs: Review Film Longlegs: Nicolas Cage Horor Psikopat
Osgood Perkins (sutradara The Blackcoat’s Daughter) membangun ketegangan dengan sangat lambat tapi sangat efektif. Hampir seluruh film terasa dingin dan sepi—warna abu-abu, salju, rumah-rumah tua yang kosong, dan keheningan panjang yang hanya dipatahkan oleh suara derit lantai atau napas berat. Tidak ada musik berlebihan atau jumpscare konvensional; ketakutan datang dari rasa tidak nyaman yang terus menumpuk. Adegan-adegan investigasi Lee Harker terasa sangat claustrophobic—close-up wajahnya yang pucat, tatapan mata yang kosong, dan ruang interogasi yang sempit membuat penonton ikut merasakan paranoia. Setiap kali Longlegs muncul (meski jarang), suasana langsung berubah jadi sangat tidak nyaman—ia tidak hanya pembunuh, tapi seperti makhluk dari mimpi buruk yang tidak bisa dipahami.
Performa Nicolas Cage yang Sangat Mengganggu: Review Film Longlegs: Nicolas Cage Horor Psikopat
Nicolas Cage sebagai Longlegs memberikan penampilan yang benar-benar gila dan tidak terlupakan. Dengan riasan wajah pucat, rambut panjang berminyak, dan suara yang berubah-ubah antara bisikan serak dan jeritan tiba-tiba, Cage menciptakan karakter yang benar-benar menyeramkan tanpa pernah jadi karikatur. Ia tidak banyak bicara, tapi setiap kata dan gerakan terasa penuh ancaman. Banyak penonton bilang ini salah satu peran paling disturbing Cage sejak Mandy atau Pig. Maika Monroe sebagai Lee Harker juga tampil sangat kuat—ia berhasil membawa rasa takut yang tenang dan kecerdasan yang dingin. Chemistry antara keduanya (meski minim interaksi langsung) terasa sangat tidak sehat dan mencekam. Alicia Witt sebagai ibu Lee menambah lapisan trauma keluarga yang membuat cerita semakin gelap. Ensemble cast terasa sangat solid—semua aktor paham nada dingin dan psikologis yang diinginkan Perkins.
Kelemahan Pacing dan Narasi
Meski atmosfer luar biasa, film ini punya kelemahan di pacing yang sangat lambat dan cerita yang sengaja ambigu. Babak tengah terasa terlalu panjang dengan banyak adegan diam dan investigasi rutin tanpa cukup maju plot. Banyak penonton merasa endingnya terlalu terbuka dan kurang memberikan penutupan yang memuaskan—beberapa subplot (terutama mitologi Longlegs) terasa tidak tuntas. Dibandingkan film horor psikologis seperti The Babadook atau Hereditary yang punya twist emosional kuat, Longlegs lebih mengandalkan rasa tidak nyaman daripada kejutan besar. Bagi sebagian penonton, ini terasa terlalu pretensius dan kurang punya “payoff” setelah ketegangan panjang. Ada juga kritik bahwa film ini terlalu bergantung pada estetika dan performa Cage tanpa cerita yang benar-benar orisinal.
Respon Penonton dan Dampak
Penonton Indonesia yang menyukai horor psikologis dan slow-burn menyambut sangat positif—film ini laris di bioskop-bioskop indie dan platform streaming, dengan banyak diskusi soal performa Cage dan atmosfer mencekam. Box office US$110 juta (dengan proyeksi akhir US$140–160 juta) tunjukkan sukses komersial untuk film horor original R-rated. Di media sosial, klip adegan Cage dan tatapan mata Monroe jadi viral meski banyak yang beri trigger warning. Film ini juga membuka diskusi soal trauma, obsesi, dan bagaimana horor psikologis bisa sangat efektif tanpa banyak kekerasan grafis. Banyak yang bilang ini salah satu horor terbaik 2025 dan layak dapat pujian atas keberaniannya tidak mengikuti formula jump-scare.
Kesimpulan
The Brutalist adalah drama epik yang berhasil jadi salah satu film paling megah dan emosional tahun 2025. Adrien Brody memberikan penampilan terbaiknya sebagai László Tóth, visual gotik dan sinematografi luar biasa, serta cerita yang berbobot membuat film ini layak ditonton di bioskop besar. Meski durasi 215 menit dan pacing lambat bisa terasa berat bagi sebagian penonton, itu justru bagian dari kekuatannya—sebuah pengalaman sinematik yang mendalam dan tidak tergesa. Worth it? Sangat—terutama kalau kamu suka sinema auteur, drama historis, dan performa akting kelas atas. Kalau suka The Zone of Interest, Oppenheimer, atau The Power of the Dog, ini wajib. Nonton kalau belum—siapkan waktu dan konsentrasi, karena film ini tidak ingin ditonton sambil main ponsel. Adrien Brody kembali megah, dan The Brutalist layak disebut salah satu film terbaik dekade ini.