Review Film Snow White: Live-Action Kontroversial vs Manis. Film live-action Snow White dari Disney, yang tayang sejak 21 Maret 2025, langsung jadi salah satu produksi paling kontroversial tahun ini. Dibintangi Rachel Zegler sebagai Snow White dan Gal Gadot sebagai Evil Queen, film musikal fantasi ini disutradarai Marc Webb dengan budget sekitar $240-270 juta. Ceritanya tetap mengikuti dongeng klasik tentang putri yang dikejar ibu tiri jahat, tapi dengan update modern: Snow White lebih mandiri, fokus pada kepemimpinan dan keberanian, bukan sekadar menunggu pangeran. Meski visualnya memukau dan lagu-lagu baru menambah pesona, film ini terbelah antara pujian atas penampilan Zegler yang luminous dan kritik pedas soal gaya cerita yang datar. Box office-nya kurang memuaskan dengan opening domestik sekitar $43 juta dan total global di bawah ekspektasi, membuatnya jadi topik hangat: apakah ini remake manis yang menyegarkan atau kontroversial yang gagal total? BERITA TERKINI
Kontroversi yang Membayangi Produksi Film Snow White: Live-Action: Review Film Snow White: Live-Action Kontroversial vs Manis
Kontroversi sudah muncul jauh sebelum tayang. Casting Rachel Zegler, aktris keturunan Kolombia, sebagai Snow White memicu backlash rasial dari sebagian netizen yang menganggap “skin as white as snow” harus literal. Zegler sendiri sempat dikritik karena komentarnya soal film asli 1937 yang dianggap outdated, sexist, dan “creepy” karena Snow White pasif menunggu pangeran. Pernyataan politiknya, termasuk dukungan Palestina dan kritik terhadap Donald Trump, memicu serangan lebih lanjut, termasuk harassment di kehidupan nyata. Di sisi lain, Gal Gadot sebagai Evil Queen menuai protes dari kelompok pro-Palestina karena dukungannya terhadap Israel. Isu dwarfism juga besar: awalnya rencana ganti Seven Dwarfs dengan “magical creatures” untuk hindari stereotip, tapi akhirnya pakai CGI setelah kritik dari Peter Dinklage dan komunitas little people. Semua ini bikin promosi film dibatasi, premiere tertutup, dan boikot dari kedua sisi politik. Hasilnya, film ini jadi korban culture war yang melelahkan, di mana kontroversi sering lebih dominan daripada kualitas film itu sendiri.
Kekuatan dan Kelemahan Film Snow White: Live-Action Secara Artistik: Review Film Snow White: Live-Action Kontroversial vs Manis
Di tengah badai kontroversi, performa Rachel Zegler jadi sorotan positif. Dia membawa pesona cerah, vokal kuat di lagu-lagu baru, dan interpretasi Snow White yang lebih empowered—seorang gadis yang ingin memimpin kerajaannya sendiri. Chemistry dengan Andrew Burnap sebagai Jonathan (versi pangeran) cukup manis, meski peran pangeran dikurangi. Gal Gadot sebagai Evil Queen punya momen menacing, tapi banyak kritik bilang penampilannya flat dan kurang memorable. Visual film indah: efek CGI dwarves (yang akhirnya tetap ada dalam bentuk CGI) terlihat mewah, set kerajaan megah, dan musikalnya punya energi. Namun, cerita terasa contrived dan cheesy bagi sebagian kritikus—terlalu banyak perubahan yang tak organik, pacing lambat di tengah, dan kurang inovatif dibanding live-action Disney lain seperti Beauty and the Beast. Rotten Tomatoes menunjukkan pembagian jelas: sekitar 39-44% dari kritikus (disebut mediocre hingga toe-curlingly terrible), tapi audience lebih ramah di kisaran 71%, banyak yang menikmati sebagai hiburan keluarga ringan.
Kesan Keseluruhan dan Dampak
Secara keseluruhan, Snow White adalah film yang terjebak di antara manis dan kontroversial. Bagi yang mencari dongeng klasik dengan sentuhan modern, Zegler membawa cahaya hangat yang membuatnya layak ditonton—terutama sebagai musikal fantasi ringan untuk anak-anak. Tapi kontroversi politik dan produksi yang berantakan membuatnya sulit lepas dari bayang-bayang negatif, dengan box office yang mengecewakan (total global di bawah $250 juta, jauh dari break-even). Ini jadi pelajaran bagi Disney soal live-action remake: perubahan besar butuh eksekusi sempurna, bukan hanya niat baik. Meski bukan yang terbaik di lineup mereka, film ini punya momen manis yang bisa dinikmati jika abaikan drama di luar layar.
Kesimpulan
Snow White live-action 2025 adalah contoh sempurna bagaimana remake klasik bisa terbelah antara pesona manis dan kontroversi pedas. Rachel Zegler bersinar sebagai putri yang lebih kuat, visual memukau, dan elemen musikalnya menghibur, tapi cerita yang kurang tajam plus badai politik membuatnya terasa kurang memuaskan secara keseluruhan. Bagi keluarga yang ingin dongeng ringan, ini cukup enjoyable; bagi yang sensitif kontroversi, mungkin lebih baik skip. Disney mungkin belajar dari sini untuk proyek selanjutnya—kadang, setia pada asal sambil inovatif adalah kunci. Fairytale ini tak sempurna, tapi tetap punya pesona yang tak bisa diabaikan sepenuhnya.