Review Film Pete’s Dragon. Film Pete’s Dragon versi live-action yang tayang pada tahun 2016 berhasil menjadi salah satu remake paling hangat dan paling dicintai dari katalog klasik Disney, di mana cerita mengikuti seorang anak laki-laki liar bernama Pete yang dibesarkan oleh seekor naga hijau raksasa bernama Elliot di hutan terpencil sebelum akhirnya ditemukan oleh manusia dan harus menghadapi konflik antara kebebasan alam serta dunia modern, disutradarai David Lowery film ini mengambil pendekatan yang sangat berbeda dari versi animasi 1977 dengan nada lebih serius, emosional serta visual yang indah, dengan durasi sekitar satu jam tiga puluh menit film ini terasa ringan namun penuh makna karena tidak terburu-buru dalam membangun ikatan antara Pete dan Elliot, hingga kini di tahun 2026 film ini masih sering ditonton ulang sebagai tontonan keluarga yang menyentuh karena pesannya tentang persahabatan lintas spesies, penerimaan diri serta pentingnya melindungi alam terasa sangat relevan di tengah isu lingkungan, membuatnya menjadi salah satu adaptasi live-action yang benar-benar menghormati semangat cerita asli sambil memberikan nuansa baru yang lebih dalam. BERITA TERKINI
Penampilan Pemeran dan Karakter Utama: Review Film Pete’s Dragon
Oakes Fegley sebagai Pete memberikan penampilan luar biasa sebagai anak liar yang tidak terbiasa dengan manusia namun penuh rasa ingin tahu serta kesetiaan mendalam terhadap Elliot, ekspresi wajah serta bahasa tubuhnya berhasil menyampaikan rasa takut, kebingungan serta cinta tanpa banyak dialog sehingga penonton langsung terhubung dengan karakternya, Bryce Dallas Howard sebagai Grace Meacham seorang ranger hutan yang penuh empati menjadi jembatan sempurna antara dunia Pete dan masyarakat, penampilannya hangat serta meyakinkan sehingga terasa seperti ibu pengganti yang tulus, Robert Redford sebagai Mr Meacham ayah Grace membawa bobot emosional besar sebagai pria tua yang pernah melihat naga dan kini mulai percaya lagi pada keajaiban, Wes Bentley serta Karl Urban sebagai antagonis yang ingin menangkap Elliot memberikan ancaman yang cukup kuat tanpa terlalu kartun, secara keseluruhan chemistry antara Pete dan Elliot yang sebagian besar dibuat melalui CGI serta mimik mata naga terasa sangat hidup sehingga ikatan mereka menjadi inti emosional yang paling kuat dalam film ini.
Visual dan Atmosfer yang Memukau: Review Film Pete’s Dragon
Salah satu kekuatan terbesar film ini terletak pada sinematografi serta desain produksi yang membuat hutan Pasifik Barat Laut terasa seperti dunia ajaib yang hidup, pencahayaan alami dengan kabut pagi serta sinar matahari yang menembus pepohonan menciptakan nuansa magis namun tetap realistis sehingga Elliot terasa benar-benar bagian dari alam, desain Elliot sebagai naga hijau berbulu lembut dengan mata besar serta ekspresi yang sangat emosional berhasil membuatnya terlihat menggemaskan sekaligus mengagumkan tanpa kehilangan rasa ancaman saat marah, adegan terbang bersama Pete serta momen Elliot bersembunyi di antara pepohonan dibuat dengan CGI yang halus dan terintegrasi sempurna dengan lingkungan sehingga terasa organik, musik karya Daniel Hart dengan melodi lembut serta orkestra yang membesar di momen klimaks memperkuat rasa keajaiban serta kesedihan, secara keseluruhan visual serta atmosfer berhasil membuat penonton merasa benar-benar berada di hutan bersama Pete dan Elliot sehingga pengalaman menonton terasa sangat imersif dan hangat.
Cerita dan Pesan yang Disampaikan
Cerita mengikuti Pete yang hidup liar bersama Elliot selama enam tahun sebelum ditemukan oleh Grace dan dibawa ke kota kecil di mana ia harus belajar berinteraksi dengan manusia sambil berusaha melindungi sahabat naganya dari pemburu serta keraguan masyarakat, konflik utama bukan hanya melawan ancaman fisik melainkan juga tentang identitas serta tempat Pete di dunia—apakah ia manusia atau bagian dari alam liar seperti Elliot, tema utama tentang persahabatan sejati yang melampaui spesies, penerimaan perbedaan serta pentingnya melindungi makhluk yang terancam punah disampaikan dengan lembut namun kuat sehingga terasa menyentuh tanpa terlalu menggurui, meskipun beberapa subplot seperti hubungan Pete dengan keluarga baru terasa agak singkat akhir cerita memberikan penutupan yang emosional serta penuh harapan dengan nada bittersweet yang realistis untuk cerita tentang kehilangan serta pertumbuhan, secara keseluruhan narasi ini berhasil menjadi dongeng modern yang menghibur sekaligus mengajak penonton merenung tentang hubungan manusia dengan alam serta arti sebenarnya dari rumah.
Kesimpulan
Secara keseluruhan Pete’s Dragon adalah remake live-action yang berhasil menangkap semangat cerita asli sambil memberikan kedalaman emosional serta visual yang indah sehingga terasa lebih dari sekadar adaptasi biasa, dengan penampilan kuat dari Oakes Fegley serta Bryce Dallas Howard, desain Elliot yang menggemaskan serta pesan tentang persahabatan serta pelestarian alam yang tulus film ini menjadi salah satu tontonan keluarga terbaik di era 2010-an meskipun tidak sebesar franchise fantasi besar lainnya, bagi penggemar cerita naga serta dongeng tentang anak liar yang menemukan keluarga film ini patut ditonton ulang karena mampu menyatukan keajaiban dengan hati yang hangat, patut menjadi bagian daftar tontonan bagi siapa saja yang mencari cerita sederhana namun mendalam tentang cinta dan keberanian, dan di tengah maraknya remake yang sering kehilangan jiwa asli film ini mengingatkan bahwa kadang pendekatan lembut serta penuh rasa hormat bisa menghasilkan sesuatu yang benar-benar abadi dan menyentuh hati lintas generasi.