Review Film Passengers. Film Passengers yang rilis pada tahun 2016 tetap menjadi salah satu karya sci-fi romantis paling kontroversial sekaligus paling banyak dibicarakan hingga sekarang. Disutradarai Morten Tyldum dan dibintangi dua aktor utama yang sedang naik daun saat itu, cerita mengambil latar di pesawat luar angkasa raksasa yang membawa ribuan penumpang dalam tidur hibernasi menuju planet baru. Ketika salah satu penumpang terbangun terlalu dini karena kerusakan teknis, ia menghadapi pilihan sulit: hidup sendirian selama sisa perjalanan puluhan tahun atau membangunkan orang lain untuk menemani. Meski awalnya dipromosikan sebagai kisah cinta epik di luar angkasa, film ini menuai kritik keras karena keputusan moral utama karakter yang dianggap bermasalah. Namun setelah beberapa tahun, Passengers mulai dilihat ulang dengan pandangan lebih seimbang sebagai film yang indah secara visual, emosional secara intim, dan cukup berani menyentuh tema kesepian serta etika dalam situasi ekstrem. Di tengah diskusi kontemporer tentang isolasi, moralitas keputusan pribadi, dan dampak teknologi terhadap hubungan manusia, film ini terasa semakin relevan. MAKNA LAGU
Visual dan Desain Dunia yang Memukau: Review Film Passengers
Kekuatan terbesar Passengers adalah desain dunia dan sinematografi yang luar biasa. Pesawat luar angkasa Avalon digambarkan sebagai kota mengambang yang megah—koridor panjang dengan langit-langit tinggi, taman buatan yang subur, bar holografik, dan kolam renang tanpa gravitasi. Setiap ruangan terasa hidup dan mewah, memberikan kontras tajam dengan kesunyian yang mencekam ketika hanya ada satu atau dua orang yang terjaga. Penggunaan warna dingin biru-hitam di koridor luar angkasa dan warna hangat emas di area hiburan menciptakan atmosfer yang indah sekaligus menyesakkan. Adegan-adegan seperti Jim berjalan sendirian di koridor kosong atau Aurora terbangun di kapsul hibernasi terasa sangat sinematik dan penuh emosi. Efek visual untuk kerusakan teknis, badai matahari, dan simulasi gravitasi berhasil dieksekusi dengan mulus, membuat penonton ikut merasakan skala dan kesepian perjalanan antarbintang. Bahkan setelah beberapa tahun, visual film ini masih terasa modern karena tidak mengandalkan tren CGI sementara—semuanya dibangun dari desain produksi yang detail dan pencahayaan yang sangat terkontrol.
Tema Kesepian, Moralitas, dan Hubungan Manusia yang Kompleks: Review Film Passengers
Di balik cerita romansa, Passengers mengajukan pertanyaan besar tentang kesepian ekstrem dan batas moral dalam situasi tanpa pilihan. Keputusan Jim untuk membangunkan Aurora bukan hanya tindakan egois, tapi juga respons manusiawi terhadap isolasi total selama puluhan tahun—ia tidak ingin mati sendirian. Film ini tidak menghakimi secara kasar; justru menunjukkan bagaimana kedua karakter harus menghadapi konsekuensi dari pilihan itu. Tema tentang hubungan yang dibangun di atas kebohongan menjadi sangat kuat di bagian tengah—ketika Aurora mengetahui kebenaran, kemarahan dan rasa dikhianati terasa sangat nyata. Namun film juga mengeksplorasi pengampunan, penebusan, dan apakah cinta bisa tumbuh meski dimulai dari kesalahan besar. Di tengah diskusi kontemporer tentang isolasi sosial, dampak teknologi terhadap hubungan, dan etika keputusan pribadi dalam situasi ekstrem, tema Passengers terasa semakin mendalam. Film ini tidak memberikan jawaban mudah; justru meninggalkan penonton dengan ketidakpastian moral yang membuatnya terus dibicarakan.
Performa Aktor dan Kelemahan Narasi
Performa dua aktor utama menjadi salah satu poin terkuat film ini. Chris Pratt sebagai Jim membawa sisi polos, lucu, tapi juga rapuh ketika kesepian mulai menggerogoti. Ekspresi wajahnya saat menyadari konsekuensi keputusannya terasa sangat nyata dan mengharukan. Jennifer Lawrence sebagai Aurora memberikan kontras yang baik—cerdas, marah, tapi juga punya sisi lembut yang membuat penonton ikut merasakan konflik batinnya. Chemistry mereka terasa alami meski premis awal sangat kontroversial. Michael Sheen sebagai Arthur memberikan sentuhan humor dan kemanusiaan yang menyegarkan sebagai bartender robot. Sayangnya, narasi film terkadang terasa terburu-buru di bagian akhir—konflik besar diselesaikan dengan cepat, dan beberapa subplot seperti latar belakang perjalanan atau nasib penumpang lain tidak dieksplorasi lebih dalam. Meski begitu, durasi film yang tepat memberi ruang untuk membangun emosi dan ketegangan dengan baik, membuat kekurangan itu tidak terlalu mengganggu.
Kesimpulan
Passengers adalah film sci-fi romantis yang berhasil menggabungkan visual memukau, tema kesepian ekstrem, dan konflik moral yang kompleks dengan cara yang jarang dilakukan di layar lebar. Meski narasi kadang terasa terburu-buru di bagian akhir dan premis utama menuai kontroversi, kekuatan visual, performa aktor, dan pertanyaan besar tentang etika serta hubungan manusia membuat film ini tetap layak disebut salah satu karya sci-fi terbaik dekade itu. Di tengah maraknya film aksi berbasis efek visual saat ini, Passengers menonjol karena berani lambat, berani intim, dan berani mengajak penonton merenung tentang kesepian, pengampunan, dan batas moral dalam situasi tanpa pilihan. Bagi penonton baru maupun yang ingin menonton ulang, film ini menawarkan pengalaman yang tidak hanya menghibur, tapi juga menggugah pikiran dan hati. Di tahun ketika isolasi sosial dan etika teknologi semakin sering dibahas, Passengers bukan hanya hiburan—ia menjadi cermin yang cukup gelap dan cukup jujur tentang pilihan yang kita buat ketika merasa benar-benar sendirian.