Film Marty Supreme
Review Jujur Film Bioskop Berjudul Marty Supreme. Marty Supreme, film terbaru Josh Safdie yang rilis 25 Desember 2025 oleh A24, lagi jadi salah satu blockbuster akhir tahun yang paling ramai dibahas. Dibintangi Timothée Chalamet sebagai Marty Mauser—ping pong hustler ambisius di New York 1950-an—film ini loosely inspired dari legenda table tennis Marty Reisman. Dengan cast seperti Gwyneth Paltrow, Odessa A’zion, Tyler the Creator, Kevin O’Leary, dan Fran Drescher, durasi 149 menit ini campur sports drama, comedy raunchy, dan satire kapitalisme. Rating Rotten Tomatoes sekitar 85%, critics puji sebagai “one of the best of 2025″—tapi ada yang bilang overlong dan frenetic. Review jujur: exhilarating dan Chalamet career-best, tapi kadang exhausting.
Plot dan Gaya Safdie yang Khas Film Marty Supreme
Cerita ikuti Marty Mauser, shoe salesman Lower East Side yang obsesi jadi world champion ping pong—hustle taruhan, scam kecil, dan naik pangkat lewat skill gila plus charisma berlebih. Dari basement table sampe tournament internasional, Marty lawan rival, manipulasi sponsor, dan hadapi konsekuensi ego-nya. Ada romansa, betrayal, dan momen absurd seperti tour dengan Harlem Globetrotters atau deal aneh dengan tycoon.
Safdie (solo debut setelah Uncut Gems) bikin review film ini seperti adrenaline rush: pacing cepat, camera handheld chaotic, edit tajam, dan score Daniel Lopatin yang pulsing. Visual recreate 1950s NYC autentik—dari neon basement sampe crowd tournament. Ini bukan sports movie klise seperti Rocky; lebih satire American Dream yang toxic, dengan gag nonstop dan action ping pong yang surprisingly intense (Chalamet train bertahun-tahun, keliatan real).
Performa Aktor dan Makna di Baliknya Film Marty Supreme
Chalamet dominasi total: Marty-nya cocky, manipulative, tapi charming—career-defining, dari try-hard salesman jadi anti-hero yang lo benci tapi root. Gwyneth Paltrow balik ke layar sebagai fading star yang kompleks, Odessa A’zion heartfelt sebagai girlfriend setia, Tyler the Creator lucu sebagai sidekick hustler. Cameo seperti Kevin O’Leary (Shark Tank) dan Isaac Mizrahi tambah unpredictable fun.
Maknanya dalam: Marty wakilin ambisi Amerika yang haus supremacy—ping pong sebagai metafor hustle tak henti, di mana confidence lebih penting dari skill. Satire kapitalisme dan showmanship ngena, plus kritik narcissism di era sosial media. Di 2025 saat polarisasi tinggi, film ini tanya: apa harga jadi “supreme” kalau hilang humanity?
Kesimpulan
Marty Supreme adalah film energik yang brilian dari Safdie: propulsive, funny, dan timely satire dengan Chalamet yang unstoppable. Meski terlalu panjang dan frenetic bikin capek, kekuatannya di orisinalitas, visual lush, dan pesan soal toxic ambition yang ngena. Skor jujur 8/10: wajib bioskop buat fans Uncut Gems atau sports drama quirky—salah satu highlight 2025. Kalau lo suka chaos entertaining dengan bite, ini hit; kalau cari plot rapi, mungkin overwhelming. Pokoknya, ping pong never looked this supreme!