Review Film Operation Red Sea. Film Operation Red Sea (2018), disutradarai Dante Lam, jadi salah satu blockbuster aksi militer Tiongkok paling intens dan sukses secara komersial. Terinspirasi longgar dari evakuasi nyata warga Tiongkok dari Yaman pada 2015, cerita ikuti pasukan khusus Jiaolong yang selamatkan sandera dan lawan teroris di negara fiktif Timur Tengah. Dibintangi Zhang Yi, Huang Jingyu, Hai Qing, dan Du Jiang, film ini raih box office lebih dari 579 juta dolar—rekor saat itu—dan menang banyak penghargaan teknis. Di 2025, Operation Red Sea masih sering disebut sebagai standar baru aksi perang modern Tiongkok, dengan realisme brutal yang jarang ada di genre sejenis. BERITA BOLA
Aksi Brutal dan Realisme Militer: Review Film Operation Red Sea
Yang paling mengesankan adalah adegan aksinya—dari tembak-menembak jarak dekat, ledakan tank, sampai sniper duel di gurun, semuanya terasa nyata dan tanpa ampun. Dante Lam pakai latihan intensif dengan militer sungguhan, buat gerakan pasukan autentik: formasi, komunikasi radio, dan taktik evakuasi. Adegan penyelamatan di kapal, serbuan kota, dan final battle di pabrik kimia penuh chaos—darah, anggota tubuh terpotong, dan korban sipil tak dihindari. Efek praktis campur CGI solid beri rasa visceral, mirip film perang Hollywood tapi dengan intensitas lebih tinggi. Musik tegang dan editing cepat buat pacing 138 menit terasa seperti rollercoaster adrenalin tanpa jeda.
Tema Patriotisme dan Pengorbanan: Review Film Operation Red Sea
Film ini kuat di pesan nasionalisme: pasukan Jiaolong wakili kebanggaan Tiongkok yang lindungi warga di mana pun, dengan slogan “Tak ada yang ditinggalkan”. Tema pengorbanan tim—setiap anggota rela mati demi misi dan rekan—beri lapisan emosional di balik kekerasan. Karakter seperti kapten Yang Rui (Zhang Yi) dan bomber Xia Nan (Hai Qing) punya arc sederhana tapi efektif: dari tugas jadi ikatan keluarga. Ada kritik halus terhadap terorisme dan perang sipil, meski perspektif jelas pro-Tiongkok. Nasionalisme disampaikan lewat aksi, bukan dialog berlebih, buat terasa organik bagi penonton domestik.
Warisan dan Pengaruh Industri
Operation Red Sea jadi benchmark aksi militer Tiongkok—dorong gelombang film serupa dengan anggaran besar dan dukungan militer. Kesuksesannya bukti pasar Tiongkok bisa hasilkan blockbuster global tanpa bergantung Barat sepenuhnya. Pengaruh teknisnya terasa di film perang kemudian, dari penggunaan drone shot sampai realisme luka tempur. Meski ada kritik kekerasan berlebih atau plot predictable (misi bertambah sulit secara linier), justru itu beri rasa epik yang diinginkan genre. Di era 2025, saat film militer makin politis, ini tetap standout karena fokus pada tim dan aksi murni.
Kesimpulan
Operation Red Sea adalah aksi militer brutal yang unggul di realisme, intensitas, dan semangat tim—pengalaman bioskop penuh adrenalin yang sulit dilupakan. Dante Lam berhasil ubah operasi evakuasi jadi thriller perang epik dengan hati di tengah kekacauan. Meski nasionalisme kuat dan kekerasan tak kenal ampun, film ini beri hiburan kelas atas bagi penggemar genre. Di 2025, tetap wajib tonton untuk sensasi tembak-menembak dan ledakan yang tak tertandingi. Rekomendasi tinggi jika suka aksi keras tanpa filter—siap-siap jantung berdegup kencang sepanjang film. Klasik modern yang patut dirayakan ulang.