Review Film Nomadland. Film Nomadland (2020) karya Chloé Zhao tetap menjadi salah satu drama paling menyentuh dan puitis hingga 2026. Berdasarkan buku non-fiksi karya Jessica Bruder, cerita ini mengikuti Fern, janda yang kehilangan segalanya setelah resesi ekonomi dan memilih hidup nomaden di van sambil keliling Amerika Barat. Dibintangi Frances McDormand sebagai Fern, dengan banyak nomad sungguhan sebagai pendukung, film ini raih enam nominasi Oscar dan menang tiga besar: Best Picture, Director, dan Actress. Di era di mana banyak orang renungkan arti rumah, kebebasan, dan penyembuhan setelah kehilangan, Nomadland terus relevan sebagai potret lembut tentang ketangguhan manusia di tengah keterasingan. BERITA BOLA
Ringkasan Cerita dan Gaya Narasi: Review Film Nomadland
Cerita mengikuti Fern setelah suaminya meninggal dan kota perusahaan tempat mereka tinggal di Nevada lenyap karena resesi. Ia jual barang-barang, ubah van jadi rumah beroda, dan mulai hidup nomaden: kerja musiman di gudang pengiriman, rest area, ladang bit, sampai taman nasional. Sepanjang jalan, Fern bertemu sesama nomad seperti Linda May, Swankie, dan Dave yang beri dukungan emosional tanpa ikatan permanen. Ada tawaran kembali ke “hidup normal”—tinggal dengan saudara atau pacar potensial—tapi Fern selalu pilih jalan. Gaya Zhao unik: campur fiksi dengan dokumenter, banyak nomad sungguhan main diri sendiri, dialog natural seperti obrolan beneran, dan shot panjang lanskap Amerika Barat yang luas tapi sepi. Tak ada plot dramatis besar—hanya perjalanan musiman Fern yang penuh refleksi, duka, dan penerimaan bahwa rumah bisa ada di mana saja, atau tak ada sama sekali.
Tema Kehilangan dan Kebebasan Nomaden: Review Film Nomadland
Nomadland gali tema kehilangan dengan cara yang halus tapi dalam: Fern tak hanya kehilangan suami, tapi juga komunitas, pekerjaan, dan rasa aman yang dulu. Kota Empire yang hilang jadi metafor Amerika pasca-resesi—banyak orang terpaksa mulai dari nol di usia pensiun. Tema kebebasan nomaden terlihat dari pilihan Fern: hidup di jalan beri rasa kontrol, meski penuh ketidakpastian cuaca dingin, kerja keras, dan kesepian. Film tunjukin sisi positif komunitas nomad—pertemuan di gurun, tukar cerita, bantu satu sama lain—tapi juga sisi pahit: sakit, kematian teman di jalan, dan pertanyaan “kapan cukup?”. Zhao hindari romantisasi berlebih—nomadisme bukan pelarian glamor, tapi cara bertahan yang realistis. Tema penyembuhan muncul pelan: Fern tak pernah benar-benar “sembuh”, tapi belajar hidup dengan duka, seperti kembali ke rumah lama yang kosong dan akhirnya tinggalkan lagi.
Penampilan Aktor dan Sinematografi
Frances McDormand beri performa luar biasa sebagai Fern—pendiam, tangguh, dengan tatapan yang sampaikan duka mendalam tanpa dialog berlebih, pantas dapat Oscar Actress. Ia main bersama nomad sungguhan seperti Linda May dan Swankie yang beri autentikasi—cerita mereka nyata, bikin film terasa seperti dokumenter berjiwa. David Strathairn beri dukungan hangat sebagai Dave, pria yang tawarin stabilitas tapi akhirnya paham pilihan Fern. Chloé Zhao sutradarai dengan gaya intim: shot panjang lanskap Badlands, gurun Nevada, pantai California—alam jadi karakter yang dominan, nunjukin manusia kecil di tengah luasnya dunia. Sinematografi Joshua James Richards ciptakan nuansa golden hour yang indah tapi sepi, skor piano Ludovico Einaudi lembut dan atmosferik. Editing pelan beri ruang penonton rasakan keheningan Fern, tanpa paksaan emosional murahan.
Kesimpulan
Nomadland tetap jadi film masterpiece karena tangkap esensi kehilangan dan kebebasan dengan kejujuran yang langka—tak beri solusi mudah, tapi cukup beri rasa damai dalam penerimaan. Di 2026, saat banyak orang bahas alternatif hidup pasca-pandemi atau resesi, film ini ingatkan bahwa rumah tak selalu tempat fisik, tapi bisa jadi jalan, komunitas sementara, atau diri sendiri. Penampilan McDormand ikonik, gaya Zhao puitis tapi realistis, dan tema universal tentang ketangguhan bikin film abadi sebagai meditasi tentang hidup nomaden modern. Bukan film dengan plot heboh, tapi yang meninggalkan rasa tenang dan renungan mendalam. Layak ditonton ulang untuk ingat bahwa kadang, kebebasan terbesar datang dari melepaskan apa yang dulu kita anggap rumah. Film ini bukti bahwa cerita sederhana tentang satu wanita dan van bisa terasa sangat luas dan menyentuh.