Review Film No Time to Die. Film No Time to Die yang dirilis pada 2021 kembali menjadi perbincangan hangat di akhir 2025 ini, terutama setelah era Daniel Craig sebagai James Bond resmi berakhir dan waralaba mencari arah baru. Disutradarai oleh Cary Joji Fukunaga, ini adalah entri ke-25 seri Bond serta penampilan kelima sekaligus terakhir Craig sebagai agen 007. Cerita mengikuti Bond yang sudah pensiun, ditarik kembali untuk misi terakhir melawan teroris dengan senjata biologis. Dengan durasi sekitar 163 menit, film ini menjadi yang terpanjang dalam sejarah seri, meraup lebih dari 774 juta dolar secara global meski rilis di masa pandemi, dan hingga kini dianggap sebagai penutup emosional era Craig. BERITA BOLA
Alur Cerita dan Perpisahan dengan Bond: Review Film No Time to Die
No Time to Die dibuka lima tahun setelah peristiwa sebelumnya, dengan Bond hidup tenang di Jamaica bersama Madeleine Swann yang diperankan Léa Seydoux. Masa lalu kembali menghantui saat ia direkrut teman lama dari CIA, Felix Leiter, untuk selamatkan ilmuwan yang diculik. Ancaman utama adalah Lyutsifer Safin, villain misterius yang diperankan Rami Malek dengan aura dingin dan dendam pribadi, yang kuasai senjata nanotech berbahaya. Alur penuh aksi global—from Jamaica, Italia, Kuba, hingga Norwegia—dengan twist emosional tentang hubungan Bond-Madeleine dan rahasia masa lalu. Film ini berani ambil risiko besar dengan ending yang kontroversial, memberikan penutup definitif bagi versi Bond Craig yang lebih manusiawi dan rentan dibanding pendahulunya.
Aksi Spektakuler dan Penampilan Ensemble: Review Film No Time to Die
Sequence aksi menjadi sorotan utama: pembukaan di Matera Italia penuh kejar-kejaran motor dan tembak-menembak, pesta di Kuba dengan Ana de Armas sebagai agen Paloma yang lincah dan mematikan dalam waktu singkat, hingga klimaks di pulau beracun yang megah. Fukunaga gabungkan stunt praktikal khas Bond—like lompat parasut, drift mobil klasik—dengan efek modern yang mulus. Daniel Craig tampil prima di penampilan terakhirnya: lebih tua, lelah, tapi tetap karismatik. Lashana Lynch sebagai agen 007 baru membawa energi segar, Rami Malek berikan villain kompleks meski kadang kurang mengancam, sementara Seydoux dan de Armas tambah kedalaman emosional. Musik Hans Zimmer yang epik, plus lagu tema Billie Eilish yang moody, tingkatkan nuansa dramatis.
Tema Emosional dan Warisan Era Craig
Berbeda dari Bond klasik yang ringan, No Time to Die fokus pada tema penuaan, pengorbanan, dan warisan. Bond Craig yang dimulai dari Casino Royale 2006 berevolusi dari agen kasar jadi pria yang belajar cinta dan tanggung jawab. Film ini homage elemen tradisional—like mobil Aston Martin, Q yang jenius, M yang tegas—sambil dorong narasi maju dengan diversitas dan konsekuensi nyata. Di akhir 2025, ia semakin dihargai sebagai penutup berani yang tak takut ambil keputusan radikal, meski sebagian penggemar lama kecewa dengan arah emosionalnya. Pujian Oscar untuk lagu tema dan visual effect perkuat statusnya sebagai salah satu Bond terbaik era modern.
Kesimpulan
No Time to Die berhasil jadi perpisahan layak bagi Daniel Craig, gabungkan aksi kelas atas dengan drama pribadi yang mendalam. Dengan alur berani, penampilan kuat, dan tema reflektif, film ini tutup era Craig dengan cara mengesankan sekaligus membuka pintu baru bagi waralaba. Meski durasi panjang dan nada lebih serius buat sebagian terasa berat, ia tetap jadi salah satu entri paling emosional dan ambisius dalam sejarah Bond. Di tengah spekulasi pemeran 007 berikutnya, karya ini patut ditonton ulang sebagai bukti bahwa agen legendaris bisa berevolusi tanpa hilang pesona abadinya.