Review Film Maleficent. Di tahun 2026, kisah klasik Maleficent kembali hadir dalam adaptasi live-action yang berhasil menyita perhatian banyak penonton. Film ini mengusung pendekatan yang berbeda dari dongeng asli, menjadikan sosok penyihir jahat sebagai pusat cerita dengan latar belakang yang lebih manusiawi dan kompleks. Visual yang memukau, musik yang kuat, serta penampilan para pemain menjadi daya tarik utama. Meskipun cerita tentang kutukan tidur seratus tahun sudah sangat familiar, adaptasi ini mampu menyajikan perspektif baru tanpa kehilangan elemen magis serta konflik emosional aslinya. Review ini akan membahas kekuatan serta kelemahan film tersebut, mulai dari penyutradaraan, akting, hingga pesan yang ingin disampaikan, sehingga penonton bisa menilai apakah film ini layak ditonton atau sekadar tambahan di daftar tontonan. BERITA BOLA
Visual dan Produksi yang Memukau: Review Film Maleficent
Salah satu kekuatan terbesar film ini terletak pada aspek visual dan produksi yang benar-benar luar biasa. Dunia Moors digambarkan dengan detail yang memanjakan mata: hutan ajaib penuh makhluk fantastis, air terjun bercahaya, serta pohon-pohon raksasa yang terasa hidup dan bernapas. Istana kerajaan manusia terasa kontras dengan kemegahan dingin dan kaku, menciptakan perbedaan visual yang kuat antara dua dunia. Efek visual pada sayap Maleficent serta transformasi makhluk Moors berhasil terasa magis dan menakjubkan—setiap gerakan sayap atau kilauan cahaya terlihat nyata namun tetap penuh keajaiban. Kostum para karakter juga patut diacungi jempol: jubah hitam Maleficent yang ikonik terlihat anggun dan menyeramkan sekaligus, sementara pakaian Aurora dibuat sederhana tapi elegan. Secara teknis, film ini termasuk salah satu adaptasi dongeng klasik yang paling cantik dalam beberapa tahun terakhir, berhasil membuat penonton terpukau sejak adegan pembuka hingga akhir.
Penokohan dan Performa Pemain: Review Film Maleficent
Performa para pemain menjadi nilai plus yang sangat signifikan dalam film ini. Pemeran Maleficent berhasil membawakan karakter dengan keseimbangan antara kejahatan, kerentanan, dan kedalaman emosional. Ia tidak hanya tampil sebagai penyihir jahat yang menakutkan, tapi juga menunjukkan luka masa lalu serta pertumbuhan karakter yang membuat penonton bisa berempati dengan alasannya melakukan kutukan. Pemeran Aurora tampil lembut namun kuat, memberikan kontras yang sempurna dengan Maleficent. Penjahat pendukung—Raja Stefan—diperankan dengan cukup meyakinkan, memberikan rasa ancaman yang nyata tanpa jatuh ke karikatur berlebihan. Karakter pendukung seperti tiga peri serta makhluk Moors dibuat dengan pendekatan yang menghormati aslinya sambil menambahkan sentuhan humor dan emosi yang tidak mengganggu. Chemistry antara Maleficent dan Aurora terasa berkembang secara bertahap dan alami, terutama pada adegan transformasi hubungan mereka yang menjadi puncak emosional. Secara keseluruhan, penokohan dalam film ini lebih manusiawi dan kompleks dibandingkan dongeng asli, membuat cerita terasa lebih dekat dengan penonton masa kini yang menginginkan karakter yang punya lapisan emosional.
Pesan dan Adaptasi Modern yang Disampaikan
Film ini tidak hanya mengulang dongeng klasik, tapi juga menyisipkan pesan modern yang relevan tanpa terasa dipaksakan. Tema pengampunan, penerimaan diri, serta kekuatan cinta yang melihat melampaui penampilan tetap menjadi inti cerita, namun ditambahkan nuansa tentang trauma masa lalu, kekuatan perempuan, serta pentingnya memahami sudut pandang orang lain. Maleficent dalam versi ini lebih aktif mengambil kendali atas nasibnya sendiri, bukan sekadar menjadi penjahat satu dimensi. Ada pula sentuhan tentang dampak iri hati serta bagaimana pengampunan bisa menyembuhkan luka yang dalam. Pesan-pesan ini disampaikan dengan lembut melalui dialog dan adegan, sehingga tetap terasa alami dan tidak menggurui. Beberapa penonton mungkin merasa penambahan elemen modern ini sedikit mengubah kemurnian dongeng asli, tapi secara keseluruhan pendekatan ini berhasil membuat kisah Maleficent terasa segar dan bermakna bagi generasi sekarang yang menghadapi isu serupa dalam kehidupan nyata.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, adaptasi Maleficent ini berhasil menjadi tontonan yang menyenangkan dengan visual memukau, performa pemain yang solid, serta pesan yang tetap relevan tanpa kehilangan jiwa dongeng aslinya. Film ini tidak mencoba merevolusi cerita secara radikal, melainkan menghidupkannya kembali dengan sentuhan modern yang pas dan tidak berlebihan. Bagi keluarga, penggemar dongeng klasik, atau siapa saja yang ingin menonton sesuatu yang ringan namun penuh makna, film ini layak masuk daftar tontonan. Meski tidak sempurna dan ada beberapa momen yang terasa familiar, kekuatan visual serta emosi yang berhasil disampaikan membuatnya pantas diapresiasi. Jika Anda mencari hiburan yang manis dengan akhir bahagia serta nuansa petualangan dan pengampunan yang kuat, Maleficent versi ini bisa menjadi pilihan yang tepat untuk dinikmati bersama orang-orang terkasih.