Review Film Eiffel I’m in Love. Film Eiffel… I’m in Love yang dirilis pada 2003 kembali mencuri perhatian di awal 2026. Klasik romansa remaja ini sering ditayangkan ulang di platform digital, membangkitkan nostalgia bagi generasi yang tumbuh di era 2000-an. Diadaptasi dari novel bestseller karya Rachmania Arunita, film ini sukses fenomenal dengan lebih dari 3 juta penonton saat pertama tayang, menjadikannya salah satu film Indonesia terlaris sebelum rekornya dipecahkan beberapa tahun kemudian. Kini, kisah Tita dan Adit masih digemari, terutama dengan adegan ikonik di Paris yang membuat banyak penonton ikut bermimpi tentang cinta pertama. BERITA VOLI
Plot dan Karakter Utama: Review Film Eiffel I’m in Love
Cerita berpusat pada Tita, gadis SMA manja dan polos yang dijodohkan orang tuanya dengan Adit, pemuda ketus yang baru pulang dari Paris. Awalnya mereka saling benci, sering bertengkar karena perbedaan sikap—Tita cengeng dan Adit blak-blakan. Perlahan, pertengkaran berubah jadi perhatian, hingga Tita sadar perasaannya saat Adit dekat dengan sahabatnya. Puncaknya adalah perjalanan Tita ke Paris untuk menyusul Adit, diakhiri rekonsiliasi romantis di Menara Eiffel.
Shandy Aulia memerankan Tita dengan manja yang menggemaskan, sementara Samuel Rizal sebagai Adit tampil cool dan tsundere khas bad boy. Karakter pendukung seperti orang tua Tita dan teman-temannya menambah humor ringan serta konflik keluarga. Chemistry kedua pemeran utama terasa alami, membuat penonton ikut deg-degan dengan dinamika enemies to lovers mereka.
Elemen Romantis dan Visual: Review Film Eiffel I’m in Love
Eiffel… I’m in Love unggul dengan trope romansa klasik: dari benci jadi cinta, ditambah latar Paris yang eksotis meski sebagian syuting di lokasi lain. Adegan di Menara Eiffel menjadi ikon, simbol janji cinta abadi yang sering dikutip hingga kini. Film ini menyajikan nuansa remaja 2000-an awal, dari gaya busana hingga cara berkomunikasi polos tanpa media sosial.
Disutradarai Nasri Cheppy, karya ini punya tempo ringan dengan humor situasional dan dialog mengena. Soundtrack menyentuh memperkuat emosi, membuat cerita terasa seperti dongeng modern tentang menemukan cinta di tengah konflik sederhana.
Kelebihan dan Kritik
Film ini dipuji karena kesetiaan pada novel, performa Shandy Aulia dan Samuel Rizal yang segar, serta pesan ringan tentang komunikasi dalam hubungan. Banyak penonton terhibur dengan komedi pertengkaran dan haru di bagian akhir, plus kesuksesan box office yang membuktikan daya tarik romcom remaja saat itu.
Di sisi lain, beberapa kritik menyebut plot agak klise dan predictable, dengan konflik terlalu exagerated serta akting pendukung kadang kurang natural. Karakter Adit dinilai terlalu kasar di awal, membuat sebagian penonton kesal. Meski begitu, kekurangan ini tak mengurangi statusnya sebagai ikon romansa Indonesia.
Kesimpulan
Eiffel… I’m in Love tetap jadi benchmark romcom remaja yang timeless di awal 2026 ini. Kisah Tita dan Adit mengingatkan bahwa cinta sering dimulai dari hal tak terduga, seperti pertengkaran kecil yang berujung janji di Menara Eiffel. Dengan visual romantis dan pesan sederhana, film ini layak ditonton ulang untuk nostalgia atau bagi generasi baru yang ingin merasakan kehangatan cinta polos era 2000-an. Secara keseluruhan, ini adalah klasik abadi yang berhasil membuat jutaan orang jatuh cinta pada layar lebar.