The Wizard of Oz: The Deal Walk
Review Film Bioskop The Wizard of Oz: The Deal Walk. Akhir 2025 ini, The Wizard of Oz: The Dead Walk jadi salah satu film horor low-budget yang bikin penasaran, terutama buat fans twist klasik dongeng jadi mimpi buruk. Dirilis Desember 2025 oleh ChampDog Films dan disutradarai Louisa Warren, review film berdurasi sekitar 94 menit ini ikuti Dorothy dewasa yang haunted mimpi buruk Oz, lalu lepasin kejahatan di dunia nyata saat rehab. Dibintangi Alina Desmond sebagai Dorothy yang trauma, dengan elemen zombie dan slasher ala Poohniverse, ini bukan remake manis, tapi dark reimagining di mana Oz bocor ke realita—atau mungkin cuma halusinasi? Rating awal IMDb sekitar 4-5 bintang, dengan trailer viral di YouTube capai jutaan views. Bagi yang suka horror twisted childhood seperti Winnie the Pooh: Blood and Honey, ini entertaining guilty pleasure—tapi jangan harap masterpiece.
Plot dan Eksekusi Sutradara Film The Wizard of Oz: The Deal Walk
Cerita buka dengan Dorothy dewasa di fasilitas rehab, masih terganggu mimpi buruk Oz sejak kecil. Saat treatment, ia tanpa sengaja (atau sengaja?) lepasin entitas jahat dari Oz—mungkin Wicked Witch atau monster baru—yang bikin mayat bangkit dan serang orang sekitar. Bodies pile up, Dorothy harus survive sambil bedain realita vs halusinasi, dengan elemen seperti flying monkeys zombie atau yellow brick road berdarah. Louisa Warren, yang dikenal dari horror indie seperti Curse of the Scarecrow, pakai budget minim untuk efek praktis gore dan jumpscare—nggak CGI mewah, tapi raw dan brutal.
Narasi campur flashback Oz klasik dengan present day slasher, bikin nuansa seperti Nightmare on Elm Street bertemu Oz. Pacing cepat di tengah dengan kill kreatif, tapi awal lambat bangun trauma Dorothy. Ini bagian dari wave public domain horror 2025, di mana karakter klasik jadi monster—tapi twistnya: apakah Oz real, atau Dorothy gila? Ending ambigu bikin debat, tapi overall eksekusi sederhana tanpa pretensi besar.
Performa Aktor Film The Wizard of Oz: The Deal Walk dan Elemen Teknis
Alina Desmond solid sebagai Dorothy: dari rapuh trauma jadi survivor fierce, ia bawa vibe final girl yang relatable. Supporting seperti Stephen Samson dan Simon Ellis tambah comic relief gelap sebagai pasien rehab yang jadi korban. Acting overall B-movie level—nggak Oscar-worthy, tapi committed, dengan scream queen energy yang pas buat genre. Visual gritty: lokasi rehab kumuh dan hutan gelap bikin claustrophobic, efek zombie praktis lebih baik dari ekspektasi low-budget.
Sound design efektif untuk jumpscare, score campur nursery rhyme twisted dengan beat horror modern. Gore cukup untuk fans slasher, tapi nggak ekstrem—cocok digital release atau VOD. Kekurangan: dialog kadang cheesy, efek spesial murahan di monster Oz, dan plot hole soal “bagaimana Oz bocor”.
Kesimpulan
The Wizard of Oz: The Dead Walk adalah horror indie fun yang manfaatin public domain untuk twist gelap klasik—entertaining buat malam weekend, dengan gore satisfying dan konsep unik Oz jadi nightmare. Meski budget minim bikin eksekusi kasar dan acting rata-rata, kekuatannya di ide brilian dan kill kreatif yang bikin ketawa sekaligus merinding. Skor 5.5/10: guilty pleasure buat fans twisted fairy tale, tapi skip kalau cari horror serius atau produksi kinclong. Di 2025 penuh Oz variant seperti Wicked sequel, ini versi murah tapi berani—worth streaming kalau suka Blood and Honey vibe. Jangan harap rainbow; ini yellow brick road berdarah!