Film The Carpenter's Son
Apa Makna dari Film Terbaru The Carpenter’s Son. Sejak tayang perdana di bioskop pada 14 November 2025, The Carpenter’s Son langsung jadi pusat kontroversi—film horor religius yang ambil cerita Yesus remaja dari Injil Kanak-Kanak Tomas yang apokrifa, dan bikin sebagian penonton geleng-geleng, sebagian lagi debat sengit. Disutradarai Lotfy Nathan dengan durasi 94 menit, cerita ini ikuti keluarga suci yang lari ke desa terpencil di Mesir Romawi kuno, di mana “The Boy” (Noah Jupe) mulai sadar kekuatan ilahi-nya yang bikin horor sehari-hari. Dibintangi Nicolas Cage sebagai “The Carpenter” (Yosef), FKA twigs sebagai “The Mother” (Maria), dan Jupe sebagai Yesus remaja yang flawed, film ini campur elemen The Witch ala Ari Aster dengan coming-of-age ala Brightburn. Dengan rating 3.9 di IMDb dan 50% di Rotten Tomatoes, respons terbelah: bagi sebagian, ini provokatif; bagi yang lain, sekadar gimmick Cage lagi. Tapi di balik kontroversi, apa makna sebenarnya dari cerita yang tanya: gimana rasanya jadi Tuhan di dunia manusia? Kita kupas tanpa bocor ending.
Sinopsis dan Latar Cerita Film The Carpenter’s Son
The Carpenter’s Son buka dengan kelahiran dramatis di gua—cahaya ilahi, jeritan, dan langsung lompat ke pembantaian bayi ala Herodes yang bikin suasana tegang dari menit pertama. Keluarga kabur ke desa terpencil di Mesir Romawi, di mana The Carpenter (Cage) coba bangun hidup normal sebagai tukang kayu, The Mother (twigs) jaga rahasia imajinasi, dan The Boy (Jupe) tumbuh remaja yang penasaran. Tapi kekuatan anehnya mulai muncul: bikin patung jatuh, sembuhkan luka, tapi juga picu wabah dan kematian tak sengaja—bikin desa curiga dan keluarga terisolasi.
Nathan syuting di lokasi gurun Mesir dan studio Maroko, hasilkan visual gritty: pasir kuning, rumah batu kumuh, dan efek praktis untuk “keajaiban” yang bikin merinding, seperti lalat beterbangan atau mayat bangkit ala zombie lambat. Narasi linear tapi penuh flashback ke masa kecil The Boy, campur horor supernatural dengan drama keluarga—mirip The VVitch tapi tambah elemen pagan seperti patung dewa Mesir yang retak. Ini adaptasi longgar dari Infancy Gospel of Thomas, teks abad ke-2 yang ceritain Yesus kanak-kanak yang “jahat” karena kekuatannya, tapi Nathan tambah layer ayah ragu dan ibu setia. Hasilnya, film ini bukan biopic suci, tapi horor psikologis soal keluarga yang lari dari takdir.
Makna Utama Film The Carpenter’s Son: Ketakutan Ilahi, Keraguan Ayah, dan Beban Kekuatan
Inti film ada di paradoks ilahi: apa jadinya kalau Yesus bukan pahlawan sempurna, tapi remaja yang bingung kekuatannya sendiri? The Boy wakilin coming-of-age horor—kekuatan Tuhan-nya bikin dia ngerasa asing, picu kecelakaan yang bunuh teman atau bikin desa panik, tanya: apakah dia mesias atau monster? Maknanya dalam soal beban takdir: ilahi bukan berkah mutlak, tapi kutukan yang bikin kesepian, mirip Brightburn di mana superpowers jadi sumber trauma. Nathan pakai ini untuk eksplor keraguan The Carpenter—Cage mainkan Yosef sebagai ayah biasa yang puasa ekstrem, tutup rumah dari cahaya, dan tanya “kalau ini bukan dari Tuhan?”, wakilin konflik bapak yang ngerasa gagal lindungi anak. Ini kritik halus ke patriarki religius: ayah yang tegar justru yang paling rapuh, sementara The Mother (twigs) jadi pilar iman yang kuat tapi takut.
Lebih luas, film ini sindir ketakutan manusia ke yang berbeda—desa Mesir wakilin masyarakat kuno yang campur pagan dan Kristen awal, di mana “keajaiban” jadi ancaman, relevan banget di 2025 saat isu intoleransi naik. Antagonis misterius (Isla Johnston) yang goda The Boy simbol godaan setan, tapi juga rasa ingin tahu remaja—pesan: kekuatan tanpa kendali bisa hancurkan segalanya. Bagi penonton, maknanya empowering: bahkan mesias butuh belajar, dan keluarga adalah benteng pertama lawan dunia. Nathan bilang inspirasi dari teks apokrifa yang “terlupakan”, buat tanya: gimana kalau kisah suci kita punya sisi gelap? Ini bukan anti-religius, tapi undangan renungkan: ilahi terasa kayak apa kalau hidupin sebagai manusia biasa?
Review: Kelebihan, Kekurangan, dan Performa Aktor
The Carpenter’s Son punya potensi gila sebagai horor religius, tapi eksekusinya campur aduk—seperti ide brilian yang kehabisan bensin di tengah. Kelebihannya: premise segar yang bikin debat, visual gurun yang claustrofobik bikin sesak, dan momen horor seperti wabah lalat atau patung retak yang bikin merinding ala Hereditary. Durasi 94 menit pas, pacing lambat di awal bangun ketegangan, dan elemen pagan tambah layer unik—Letterboxd user sebut “terrifying if Jesus real”, dengan cult appeal buat fans body horror. Roger Ebert beri 2/4: “Tedious tapi punya spark”, sementara IndieWire puji sebagai “stolid cross antara Last Days in the Desert dan Brightburn”. Buat yang suka eksplor mitos, ini provocative—rating TV-MA aman buat dewasa, tapi bikin mikir semaleman.
Tapi kekurangannya nyelekit: dialog kaku dan stilted kayak baca Alkitab literal, bikin scene keluarga terasa datar. Horornya tak konsisten—beberapa jumpscare murahan, sementara tema spiritual kurang dieksplor, jadi terasa half-baked. Guardian sebut “bafflingly acted and messily made bore”, dengan plot predictable dan kurang gore buat genre fans. Rotten Tomatoes critic 40%, audience 50%—banyak keluhan soal kontroversi trailer yang over-hype, tapi filmnya lebih drama daripada scare. Performa? Noah Jupe standout sebagai The Boy: flawed, penasaran, dan menakutkan—ia bawa remaja ilahi yang relatable. FKA twigs solid sebagai The Mother yang penuh misteri, tapi Nicolas Cage… meh. Ia main serius tanpa over-the-top, tapi aksen California-nya aneh di setting kuno, bikin Yosef kayak turis bingung. Ensemble seperti Souheila Yacoub tambah warna, tapi overall acting tak selamatkan skrip lemah. Secara keseluruhan, 5/10: ide bagus, eksekusi biasa—worth watch buat diskusi, tapi skip kalau cari horor murni.
Kesimpulan
The Carpenter’s Son bukan horor religius yang flawless, tapi eksperimen berani yang tanya makna ilahi di dunia manusia: ketakutan kekuatan, keraguan keluarga, dan beban takdir yang bikin mesias pun rapuh. Dengan Noah Jupe yang brilian dan premise apokrifa yang provokatif, film ini ingatkan: kisah suci bisa gelap kalau dilihat dari sisi manusiawi. Di 2025, saat debat agama makin panas, Nathan ajak kita renung: apa jadinya kalau Tuhan remaja? Meski eksekusi tak immaculate, kekuatannya di spark yang bikin debat—layak ditonton buat yang siap campur takut dan mikir. Streaming atau bioskop sekarang, dan siapa tahu, lo temukan “kekuatan” tersembunyi di cerita lama ini.