Review Film Avengers: Endgame. Film Avengers: Endgame arahan Anthony dan Joe Russo yang rilis pada 2019 tetap jadi salah satu pencapaian terbesar sinema superhero hingga 2026, meski franchise sudah lanjut ke fase baru. Sebagai penutup saga Infinity 22 film, Endgame raup lebih dari 2,79 miliar dolar dunia, jadi film terlaris kedua sepanjang masa saat itu. Dengan durasi 181 menit penuh emosi, aksi epik, dan momen ikonik, film ini jadi puncak Marvel Cinematic Universe fase 1-3. Dibintangi ensemble besar seperti Robert Downey Jr., Chris Evans, Scarlett Johansson, dan Mark Ruffalo, Endgame bukan hanya blockbuster, tapi fenomena budaya yang bikin jutaan penonton nangis dan sorak di bioskop. Review ini bahas kenapa film ini masih layak ditonton ulang sebagai salah satu ending terbaik di genre superhero. BERITA BASKET
Plot Epik dan Penutup Saga: Review Film Avengers: Endgame
Endgame lanjut langsung dari Infinity War: setengah alam semesta hilang karena jentikan Thanos (Josh Brolin). Lima tahun kemudian, Avengers yang selamat—dipimpin Tony Stark yang hidup tenang dan Captain America yang pimpin support group—temukan cara time heist untuk kumpul batu Infinity dan balikkan snap. Plot campur time travel kompleks tapi dieksekusi cerdas: tim bagi jadi grup kecil untuk ambil batu di momen film sebelumnya, beri fanservice nostalgia tanpa murahan. Twist seperti Tony temui ayahnya atau Loki lolos dengan Tesseract tambah lapisan emosional. Puncak di portal scene—”Avengers… assemble”—dan battle akhir dengan ratusan hero lawan Thanos jadi salah satu momen bioskop paling epik sepanjang masa. Ending beri closure untuk karakter utama: pengorbanan Tony, Steve pilih hidup normal, dan legacy diteruskan. Plot tak sempurna—beberapa lubang time travel—tapi emosi dan payoff 11 tahun buildup buat itu terasa kecil.
Aksi Megah dan Momen Emosional: Review Film Avengers: Endgame
Aksi di Endgame jadi puncak franchise: battle akhir 30 menit penuh hero vs outrider Thanos, dengan Captain pegang palu Mjolnir, Iron Man snap, dan Wanda hampir bunuh Thanos sendirian. Russo brothers atur koreografi ratusan karakter tanpa chaos—setiap hero punya spotlight. Efek visual revolusioner saat itu, terutama time heist dan portal scene yang bikin penonton sorak di bioskop. Tapi kekuatan sejati film ini di momen emosional: Tony reuni dengan ayah, Steve dansa dengan Peggy, atau Natasha korbankan diri di Vormir. Humor khas Marvel tetap ada—Thor depresi dengan perut buncit atau Ant-Man bingung time travel—tapi seimbang dengan drama berat. Skor Alan Silvestri dengan motif heroik tambah epik, terutama “Portals” saat semua kembali.
Warisan dan Relevansi Saat Ini
Endgame menang Oscar untuk Visual Effects, nominasi Best Picture lawan 1917, dan jadi fenomena budaya—teater penuh penonton cosplay, meme “I love you 3000”, dan debat ending Tony vs Steve. Film ini tutup era Iron Man dan Captain America dengan satisfying, sambil buka pintu fase baru. Pengaruh ke superhero movie besar—setelah ini, banyak franchise coba saga panjang tapi jarang capai payoff sama. Di 2026, saat MCU fase 5-6 hadapi kritik “fatigue”, Endgame ingatkan masa keemasan saat setiap film terasa event. Kritik atas durasi panjang atau fanservice berlebih valid, tapi emosi dan skala buat itu terasa worth it. Rating Rotten Tomatoes 94% kritikus dan 90% audience tunjukkan apel universal—film yang bikin penonton nangis dan tepuk tangan di bioskop.
Kesimpulan
Avengers: Endgame adalah penutup saga superhero paling ambisius dan emosional, dengan aksi megah, plot time heist cerdas, dan closure karakter yang satisfying. Russo brothers ciptakan 181 menit yang terasa seperti pesta perpisahan 11 tahun—sorak saat portal, haru saat Tony snap. Di usia lebih dari 7 tahun, tetap jadi benchmark ending franchise, bukti MCU bisa beri payoff epik tanpa murahan. Bagi penggemar atau yang baru kenal, Endgame wajib rewatch—film yang buat “whatever it takes” jadi mantra abadi. Ia ingatkan bahwa superhero terbaik punya hati, dan ending bisa indah meski pahit. Endgame bukti sinema blockbuster bisa punya jiwa, warisan abadi yang tak tergantikan di genre. Film yang bikin kita percaya hero lagi.