Review Film: Love Reset (2023)
Review Film: Love Reset Genre komedi romantis (rom-com) Korea sering kali terjebak dalam pola yang repetitif: pertemuan yang manis, konflik kesalahpahaman, dan akhir bahagia selamanya. Namun, Love Reset (2023) hadir untuk mengobrak-abrik formula tersebut dengan premis yang kacau, histeris, dan sangat menghibur. Disutradarai oleh Nam Dae-jung, film ini mempertemukan kembali Kang Ha-neul dan Jung So-min—yang sebelumnya beradu akting dalam film Twenty (2015)—dalam sebuah narasi tentang pernikahan yang berada di ujung tanduk.
Cerita berpusat pada Noh Jung-yeol dan Hong Na-ra, pasangan yang memulai hubungan mereka bak kisah dongeng namun berakhir dalam pernikahan yang bagaikan film thriller. Saking bencinya satu sama lain, mereka memutuskan untuk bercerai. Namun, tepat 30 hari sebelum penyelesaian perceraian mereka diresmikan, sebuah kecelakaan mobil menyebabkan keduanya kehilangan ingatan secara total. Premis “amnesia” yang biasanya digunakan sebagai alat melodrama tragis, di sini diputarbalikkan menjadi sumber komedi situasi yang brilian. Love Reset mengajak penonton bertanya: jika Anda melupakan semua alasan mengapa Anda membenci pasangan Anda, apakah Anda akan jatuh cinta lagi padanya?
Kimia Komedi yang Eksplosif dan “Wajah Jelek” Pernikahan
Kekuatan pendorong utama film ini adalah chemistry luar biasa antara Kang Ha-neul dan Jung So-min. Keduanya tidak takut untuk tampil jelek, konyol, dan memalukan demi komedi. Kang Ha-neul, yang berperan sebagai pengacara cerdas namun norak dan picik, serta Jung So-min sebagai produser film yang percaya diri namun sedikit gila, adalah pasangan yang serasi dalam kekacauan. (berita musik)
Babak awal film didedikasikan untuk menunjukkan betapa buruknya hubungan mereka. Film ini tidak segan menampilkan realitas pernikahan yang “garing” dan penuh kebencian—mulai dari pertengkaran soal kebiasaan makan hingga hinaan verbal yang kreatif. Komedinya bersifat slapstick dan verbal, dengan tempo yang sangat cepat. Transformasi mereka dari musuh bebuyutan yang saling mendoakan keburukan menjadi dua orang asing yang bingung pasca-kecelakaan dieksekusi dengan timing komedi yang sempurna. Penonton diajak menertawakan kehancuran rumah tangga mereka, bukan dengan rasa kasihan, tapi dengan rasa geli yang katarsis.
Amnesia Sebagai Tombol “Reset” Hubungan
Biasanya, hilangnya ingatan dalam film romantis digambarkan sebagai hambatan cinta (seperti dalam The Vow atau A Moment to Remember). Namun, dalam Love Reset, amnesia justru menjadi berkah tersembunyi. Dengan hilangnya memori tentang pertengkaran, dendam, dan kebiasaan buruk masing-masing, Jung-yeol dan Na-ra kembali ke pengaturan pabrik (factory setting) kepribadian mereka.
Film ini menggunakan trope ini untuk mendekonstruksi hubungan mereka. Tanpa beban masa lalu, mereka mulai melihat satu sama lain dengan kacamata yang objektif. Mereka menyadari bahwa ketertarikan fisik dan kecocokan emosional mereka sebenarnya masih ada, hanya saja tertimbun oleh ego dan ekspektasi yang tidak realistis selama pernikahan. Proses “jatuh cinta kembali” ini terasa manis sekaligus ironis, karena penonton (dan keluarga mereka di film) tahu betapa toksiknya hubungan mereka sebelumnya. Ini memberikan pesan subtil bahwa terkadang, untuk memperbaiki hubungan yang rusak, kita perlu “melupakan” kesalahan masa lalu dan melihat pasangan kita sebagai individu baru.
Satire Keluarga dan Peran Pendukung Review Film: Love Reset
Pernikahan di Korea (dan banyak budaya Asia lainnya) bukan hanya penyatuan dua individu, melainkan dua keluarga. Love Reset mengeksploitasi dinamika ini habis-habisan untuk tujuan komedi. Konflik antara ibu Jung-yeol yang tradisional dan ibu Na-ra yang modern serta dominan menjadi bumbu penyedap yang memperkeruh suasana.
Karakter-karakter pendukung, mulai dari sahabat-sahabat mereka yang aneh hingga adik Na-ra yang sinis, berfungsi sebagai “penjaga memori” yang berusaha mengingatkan pasangan amnesia ini betapa buruknya mereka saat bersama. Upaya keluarga untuk memisahkan mereka selama periode 30 hari tersebut—justru saat benih-benih cinta mulai tumbuh kembali—menciptakan situasi ironi dramatis yang mengocok perut. Film ini menyindir betapa campur tangan pihak luar sering kali menjadi bahan bakar utama keretakan rumah tangga.
Kesimpulan Review Film: Love Reset
Secara keseluruhan, Love Reset adalah angin segar di tengah lesunya genre komedi romantis layar lebar. Film ini berhasil menjadi tontonan yang sangat lucu tanpa kehilangan hati. Ia tidak berusaha menjadi film yang terlalu filosofis atau berat; tujuannya jelas adalah menghibur, dan ia berhasil melakukannya dengan sangat baik.
Bagi Anda yang merindukan rom-com era 2000-an yang mengandalkan dialog cerdas dan situasi konyol, Love Reset adalah pilihan yang tepat. Di balik semua tawa dan kekacauan, film ini meninggalkan pesan hangat: bahwa tidak ada pasangan yang sempurna, dan cinta sejati sering kali membutuhkan usaha untuk saling memaafkan, melupakan keburukan, dan memilih untuk tetap bersama—bahkan jika ingatan Anda menyuruh untuk lari. Sebuah film yang ringan, menyenangkan, dan sukses membuat kita percaya lagi pada kesempatan kedua.
review film lainnya ….