Review Film Me Before You. Film Me Before You (2016) tetap menjadi salah satu drama romansa yang paling sering ditonton ulang dan dibahas hingga sekarang, terutama di kalangan penonton yang menyukai cerita cinta dengan taruhan emosional tinggi. Diadaptasi dari novel Jojo Moyes dan disutradarai oleh Thea Sharrock, film ini mengisahkan Louisa Clark (Emilia Clarke), seorang gadis ceria dari keluarga sederhana, yang menjadi pengasuh Will Traynor (Sam Claflin), pria kaya yang lumpuh total setelah kecelakaan. Awalnya hanya pekerjaan, hubungan mereka perlahan berubah menjadi ikatan yang dalam dan penuh makna. Dengan chemistry kuat antara kedua pemeran utama serta tema yang menggugah tentang hidup, pilihan, dan cinta, film ini berhasil menyentuh jutaan penonton meski menuai kontroversi terkait endingnya. Meski sudah berusia hampir satu dekade, Me Before You masih relevan karena berhasil mengangkat isu hak hidup dan kualitas hidup dengan cara yang tulus dan tidak menghakimi. Artikel ini akan meninjau kembali kekuatan serta nuansa emosional film ini sebagai karya yang masih sangat layak ditonton ulang. BERITA BASKET
Kisah Cinta yang Tumbuh dari Kepedulian: Review Film Me Before You
Inti cerita Me Before You terletak pada hubungan yang berkembang antara dua orang yang sangat berbeda. Louisa—gadis optimis, berpakaian warna-warni, dan selalu berusaha melihat sisi positif—masuk ke kehidupan Will yang gelap, sinis, dan penuh keputusasaan setelah kecelakaan yang membuatnya tetraplegik. Awalnya Will menolak kehadiran Louisa, tapi perlahan sikapnya mencair berkat energi positif dan kejujuran gadis itu. Mereka mulai berbagi cerita, tertawa bersama, dan saling mengubah satu sama lain.
Film ini tidak terburu-buru membangun romansa. Ia membiarkan hubungan tumbuh secara organik melalui momen-momen kecil: perjalanan ke pantai, konser musik, pernikahan saudara Louisa, dan akhirnya perjalanan ke Mauritius. Setiap adegan terasa autentik dan penuh perasaan karena fokus pada perkembangan karakter: Louisa belajar melihat dunia dari perspektif orang lain, sementara Will mulai menemukan alasan untuk tetap hidup meski hanya sementara. Narasi ini berhasil membuat penonton ikut merasakan perubahan emosi keduanya tanpa terasa dipaksakan atau berlebihan.
Penampilan Aktor dan Penggambaran Emosi yang Tulus: Review Film Me Before You
Emilia Clarke sebagai Louisa memberikan penampilan yang sangat hangat dan meyakinkan—ia berhasil menampilkan karakter yang ceria tapi tidak dangkal, penuh empati tapi tetap punya batas. Transisinya dari gadis polos menjadi seseorang yang matang secara emosional terasa sangat alami. Sam Claflin sebagai Will membawa sosok yang kompleks: pria yang marah pada nasibnya, sarkastik, tapi perlahan menunjukkan kerentanan dan kelembutan di balik sikap dinginnya. Chemistry keduanya terasa sangat kuat, terutama di adegan-adegan intim seperti ketika Louisa membaca buku untuk Will atau mereka berbagi cerita di malam hari.
Film ini juga berhasil menggambarkan realitas tetraplegia dengan sensitif: rutinitas perawatan, rasa sakit kronis, dan kehilangan martabat pribadi ditampilkan tanpa eksploitasi. Adegan ketika Will mengungkapkan keinginannya untuk mengakhiri hidup melalui euthanasia menjadi momen paling kuat dan kontroversial—film tidak menghakimi, tapi membiarkan penonton merasakan dilema moral serta emosi kedua karakter. Pendekatan ini membuat cerita terasa sangat manusiawi dan tidak jatuh ke sentimentalitas murahan.
Kelemahan Naratif dan Dampak Emosional yang Bertahan
Meski sangat kuat secara emosional, film ini memiliki beberapa kelemahan yang terasa bagi penonton kritis. Beberapa dialog terasa terlalu puitis atau terlalu “bijak” untuk percakapan sehari-hari, terutama di bagian akhir ketika film berusaha memberikan penutup yang menyentuh. Pengembangan karakter pendukung seperti orang tua Will dan keluarga Louisa kadang terasa kurang dalam, sehingga dinamika keluarga tidak sepenuhnya tergali. Ending yang bittersweet—meski sangat mengena—bisa terasa terlalu manipulatif bagi sebagian penonton karena sengaja memainkan emosi.
Namun, dampak emosional film ini tetap sangat bertahan lama. Banyak penonton melaporkan masih terharu ketika menonton ulang adegan-adegan akhir, terutama ketika Louisa membaca surat terakhir Will. Film ini berhasil menyampaikan pesan bahwa hidup yang singkat dan penuh keterbatasan tetap bisa bermakna jika diisi dengan cinta, keberanian, dan kepedulian terhadap orang lain. Pesan itu masih sangat relevan hingga kini, terutama bagi mereka yang menghadapi penyakit kronis, kehilangan, atau pilihan sulit dalam hidup.
Kesimpulan
The Last Song tetap menjadi salah satu drama keluarga dan romansa paling mengena yang pernah dibuat, terutama karena berhasil menggabungkan cerita rekonsiliasi ayah-anak dengan romansa remaja yang tulus dan realisme emosional yang jarang ditemui di genre serupa. Penampilan kuat dari Miley Cyrus dan Greg Kinnear, arahan yang sensitif, serta narasi yang berani menunjukkan sisi pahit dari cinta dan keluarga membuat film ini lebih dari sekadar kisah cinta—ia adalah pengingat bahwa hidup sangat singkat, dan kadang yang paling berarti adalah memperbaiki hubungan sebelum terlambat.
Di tahun 2026, ketika banyak film drama modern lebih mengandalkan formula cepat atau visual mewah, The Last Song mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati sebuah cerita terletak pada kejujuran emosi, kesederhanaan yang dalam, dan keberanian untuk menunjukkan kerapuhan manusia. Bagi siapa pun yang belum menonton atau ingin menonton ulang, film ini masih sangat layak—sebuah karya yang tidak hanya menghibur, tapi juga meninggalkan bekas yang lama di hati. Jika Anda mencari film yang membuat Anda menangis, berpikir, dan akhirnya menghargai keluarga serta waktu bersama orang tersayang, The Last Song adalah jawabannya.