Review Film Strange Days. Strange Days tetap menjadi salah satu film fiksi ilmiah paling visioner dan paling gelap sejak tayang pada tahun 1995. Hampir tiga dekade kemudian, di awal 2026, ketika kita semakin sering hidup melalui rekaman orang lain—baik lewat live stream, VR, atau konten first-person—film ini terasa seperti prediksi yang sangat akurat sekaligus sangat mengganggu. BERITA BASKET
Cerita berlatar akhir tahun 1999 di Los Angeles yang kacau menjelang pergantian milenium. Masyarakat kecanduan teknologi baru bernama SQUID: perangkat yang merekam pengalaman sensorik secara langsung ke otak, memungkinkan orang “merasakan” apa yang dialami orang lain—termasuk seks, kekerasan, atau bahkan kematian. Di tengah kerusuhan sosial, eksploitasi, dan paranoia, Lenny Nero—mantan polisi yang kini jadi pedagang rekaman ilegal—terjebak dalam konspirasi besar setelah menerima rekaman pembunuhan yang melibatkan orang-orang penting.
Visual dan Atmosfer yang Sangat Imersif: Review Film Strange Days
Salah satu kekuatan terbesar Strange Days adalah bagaimana film ini membuat penonton merasakan ketidaknyamanan teknologi itu sendiri. Adegan rekaman SQUID ditampilkan dalam gaya first-person yang sangat intens—kamera goyang, napas terengah, detak jantung, dan sensasi fisik yang terasa nyata. Ketika Lenny “memainkan” rekaman, penonton ikut merasakan apa yang dia rasakan—sesuatu yang sangat jarang dilakukan film pada masanya.
Los Angeles akhir 90-an digambarkan sebagai kota yang sudah di ambang kehancuran: kerusuhan rasial, polisi brutal, dan masyarakat yang kabur dari realitas melalui rekaman. Warna neon, hujan konstan, dan kerumunan yang panik menciptakan suasana claustrophobic yang kuat. Visual ini tidak terasa kuno meski sudah berumur panjang—malah terasa seperti cerminan dunia kita sekarang yang penuh live stream kekerasan dan konten ekstrem.
Performa Aktor dan Karakter yang Memberi Bobot Emosional: Review Film Strange Days
Performa utama sebagai Lenny Nero berhasil menangkap sosok yang rusak tapi masih punya hati: seorang pria yang kecanduan masa lalu, menjual pengalaman orang lain sambil menghindari hidupnya sendiri. Transisinya dari pedagang dingin menjadi seseorang yang harus menghadapi konsekuensi moral terasa sangat tulus.
Karakter pendukung juga sangat kuat. Mace, bodyguard wanita yang setia dan tangguh, memberikan dimensi emosional yang dalam—ia adalah suara hati nurani Lenny yang terus-menerus diabaikan. Antagonis seperti pengusaha korup dan polisi yang terlibat konspirasi punya motivasi yang jelas dan menyeramkan. Semua karakter terasa seperti manusia nyata yang terjebak dalam sistem yang sudah rusak.
Interaksi antar karakter penuh ketegangan dan konflik emosional—terutama hubungan rumit antara Lenny, mantan pacarnya, dan Mace. Dialog yang tajam dan penuh sarkasme membuat setiap adegan terasa hidup dan tidak pernah membosankan.
Tema yang Terasa Sangat Dekat dengan Realitas 2026
Strange Days mengajukan pertanyaan besar tentang teknologi yang memungkinkan kita “hidup” melalui orang lain: apa yang terjadi kalau orang bisa merasakan kekerasan, seks, atau kematian tanpa konsekuensi pribadi? Apakah itu membuat kita lebih empati atau justru lebih kejam? Film ini juga menyentuh isu privasi, eksploitasi, dan bagaimana masyarakat kabur dari realitas melalui simulasi.
Di awal 2026, ketika live stream kekerasan, konten VR ekstrem, dan deepfake semakin umum, pesan Strange Days terasa sangat menyakitkan. Film ini tidak hanya memprediksi kecanduan terhadap pengalaman orang lain—ia juga menunjukkan bagaimana teknologi semacam itu bisa digunakan untuk menutupi ketidakadilan sosial dan kekerasan sistemik. Kerusuhan di film terasa seperti cerminan kerusuhan sosial yang kita lihat di berbagai belahan dunia sekarang.
Kesimpulan
Strange Days adalah film yang berhasil menggabungkan aksi intens, misteri konspirasi, dan kritik sosial yang sangat dalam tanpa kehilangan keseimbangan. Ia mungkin punya beberapa elemen yang terasa kuno (seperti teknologi SQUID yang terlihat seperti kaset), tapi justru itulah yang membuatnya abadi—karena pesannya bukan tentang gadget, melainkan tentang apa yang terjadi pada kemanusiaan ketika kita terlalu sering hidup melalui orang lain.
Di tahun 2026, ketika kita semakin sering menyaksikan dunia melalui layar daripada mengalaminya langsung, Strange Days terasa seperti peringatan yang belum habis masa berlakunya. Ia mengingatkan bahwa teknologi bisa membuat kita merasa dekat dengan segalanya, tapi juga bisa membuat kita semakin jauh dari diri sendiri dan orang lain.
Bagi penggemar sci-fi yang suka cerita dengan makna lebih dalam, Strange Days tetap salah satu yang paling layak ditonton ulang. Ia tidak menawarkan akhir bahagia, tapi menawarkan kejujuran yang menyakitkan—dan itu jauh lebih berharga daripada janji utopia teknologi. Film ini tidak sekadar tentang masa depan—ia tentang apa yang sudah mulai terjadi sekarang.